Floral Tumblr Themes

ENCHANTEE, Tumbuh disetiap Musim


"Dan waktu, seperti kita tahu, tidak pernah bisa diajak berkompromi. Diantara kita tetap diam saja. Aku ingin mengatakan sesuatu tapi malu, maukah kau menungguku ?"

Hujan Matahari - Kurniawan Gunadi

1 note
Tagged as: Hujan Matahari,

Beberapa tahun yang lalu sekitar jam setengah 9 malam, aku menelfon ibu, sedang dimana beliau saat itu, dan beliau hanya menjawab. ‘ga tau, ditengah kebun karet, doain ya’.

Time flies, everything’s changing. Mungkin saat itu kami sedang ada di lokasi yang sama dengan ibuku dulu, bedanya, ini bukan jam setengah 9 malam, tapi setengah 2 dini hari. Aku membuka mata, melihat layar hp, memperhatikan gerakan GPS di hp, laki-laki didepanku disebelah kiri melakukan hal yang sama, memperhatikan arah gerak GPS nya, membandingkan, laki-laki didepanku disebelah kanan menyetar, tiga perempuan disampingku tidak tidur, mereka tahu, sama ketakutannya sepertiku, mendengar, tapi mereka menutup mata.

Aku bertanya pada temanku, ‘bisa nyetir lebih cepet ?’, dia menjawab, ‘ga bisa, gue ga tau medan disini, sama sekali’.

Kami ber-enam, tidak ada yang pernah ke pantai Sawarna. Siapa yang mengajak ? aku yang mengajak. Aku pun sama tidak mengiranya bahwa setelah melewati pantai Pelabuhan Ratu, kami harus melewati rimba yang lain. Rimba pertama yang kami lewati adalah kebun-kebun karet tanpa penerangan disisi jalan, ditambah dengan cerita daerah Banten pada malam hari yang begitu terkenal. Rimba kedua adalah jalan kecil yang mungkin hanya cukup untuk satu mobil yang sepertinya baru selesai diaspal, disampingnya bukan lagi kebun karet tapi ini hutan beneran, dengan kontur jalanan yang lebih ekstrim, tiba-tiba naik, turun, lalu menukik tajam. Aku benar-benar berharap temanku bisa menyetir lebih cepat, agar kami bisa segera keluar dari rimba itu. Sebelum pergi aku berpesan pada mereka, jangan bicara sompral apalagi terbahak-bahak.

Nightmare is ended. Kami sampai di pintu masuk gang menuju pantai tepat saat adzan shubuh. Masuk ke penginapan, shalat, dan tidak sabar untuk bercengkrama dengan laut, suara ombaknya adalah panggilan. Tidur ? kita kesana bukan untuk tidur.

Temanku asik berfoto, yang lain bermain gitar, lainnya lagi telfonan, aku asik dengan asinnya laut. Menjelang sore, kami berjalan-jalan di sekitar pantai. Ini bukan Ujung Genteng tahun 2010, Santolo, Cipatujah, atau SIndangkerta, ini pertengahan antara Pangandaran dan Pelabuhan Ratu, Rameee sayaaaang. Kami sampai di Tanjung Layar dengan dua tebing yang fenomenal itu, berfoto dan banyak orang lain yang kebawa foto. Aku menikmati cipratan ombak yang pecah di tebing karang dan orang menanyaiku kenapa aku sendiri. Who cares ? padahal kalau pantainya sepi, sering juga setelah shubuh aku langsung turun ke pantai sendirian.
Cerita berikutnya tentang Laguna Pari, teman-temanku menolak berjalan jauh kesana, kata temanku yang dulu pernah kesana itu bagian pantai Sawarna yang paling bagus, tempat matahari terbit, dan tempat lain-lain. Kenyang di Tanjong Layar awalnya kami hendak ke Laguna Pari, setelah tau jaraknya, teman-temanku menolak, aku ingin pergi, sendiri tidak masalah, tapi menjadi masalah saat aku lihat salah satu lekukan karang tajam dan ancaman ombaknya, aku mengalah hari itu.

Besoknya setelah shalat shubuh, aku mencoba lagi untuk pergi ke Laguna Pari, pantai yang harus aku lewati kesana dengan karang yang tajam itu ternyata sedang pasang, ini lebih tidak mungkin lagi untuk aku lewati, aku bertanya pada penduduk sekitar, mereka memberitahuku jalan memutar.
Aku tidak benar-benar yakin dengan apa yang akan aku temukan, matahari terbit ? entah. Setelah berjalan beberapa lama, ternyata aku benar-benar menemukan matahari yang sedang terbit, indah. Berjalan lagi, dan aku menemukan banyak orang, aku yakin ini Laguna Pari, persis seperti yang temanku ceritakan.

Aku sampai di Laguna pari hampir setengah 7 pagi, terlalu siang memang untuk matahari terbit, tapi karena tertutup awan, saat itu matahari memang baru saja terlihat terbit. Orang-orang ramai dengan kameranya, yang aku inginkan hanya berenang di air dengan ikan-ikan sambil melihat matahari terbit, siapa peduli dengan kamera. Masih terlalu banyak orang untuk berenang, malu, hehe. Laguna Pari itu terbentuk dari kolam-kolam yang dibentuk oleh karang, dikolam-kolam itu ada ikan laut, terumbu karang, dan bulu babi :( di batas paling luar kolam, ada tebing karang yang tinggi yang menghalau ombak menghempas ke kolam karang yang di dalam, jadilah kita aman sekali untuk berenang.

Sambil menunggu orang pergi, aku mengambil beberapa foto matahari terbit. Tersisa sekitar 5 orang, aku mulai berenang-menyelam bersama ikan-ikan, berpegangan pada terumbu karang, dan menghindari bulu babi. Tersisa 3 orang lagi, dan melihatku berenang kesana kemari mengejar ikan. Bersyukur paling tidak mereka tidak bertanya kenapa berenangnya sendirian, ini sejujurnya malesin banget jawabin orang-orang yang tanya kenapa harus pisah dari kelompok. yang nanya gitu banyak x_X

Selesai berenang aku kembali bersama teman-teman kelompokku, dan pulang ke bandung. Oleh-oleh yang biasa dibawa sepulang dari pantai biasanya tangan dan kaki yang tergores batu karang disana-sini, alhamdulilah sekarang jumlahnya tidak sebanyak biasanya.
Entah mau kesana lagi atau tidak, mungkin, siapa tau.

Tagged as: pantai, sawarna, beach, Banten, Bayah,

(via feelings)


yeshecholwa:

Macocha Gorge, Czech Republic

yeshecholwa:

Macocha Gorge, Czech Republic

(Source: gyclli, via feelings)


tranquilprince:

 Paler than the moon, darker than the night. 

tranquilprince:

 Paler than the moon, darker than the night. 

(Source: soullessalien, via feelings)

lovelypuccino:

It’s hard and so easy at the same.
To fight the will to be stand still beside you just to make sure we are still real.
Still here.
It’s us. No. It’s me learn to love again.
And protecting the heart at the same time.

Rindu itu absurd. Rindu itu ketika rasa yang harusnya ditanggung berdua tapi dibawa untuk dinikmati sendiri.
Untuk apa bersama kalau rasa yang bisa dibagi berdua ditahan untuk sendiri?
Tapi sekarang baru mengerti intinya.
Menabung rindu.




Ada pagi yang tidak boleh dilewatkan, dan ada malam yang tidak sehening biasanya, ini malam saat kita hendak mendaki di gunung Papandayan, jam 12 malam dan mobil kami ngadat tidak bisa lagi naik menuju pos awal jalur pendakian. Saat itu aku tidak berhenti berdoa, pasrah, dan ketakutan.

Ibu sempat bilang, bahwa untuk sampai ke jalur pendakian biasanya harus naik mobil bak terbuka, entah, aku tidak tahu. Jalanan menuju jalur pendakian ternyata semakin parah, mobil march yang temanku bawa tidak mampu lagi naik melewati daerah hutan gelap ini. Di belakang mobil kami ada mobil bak terbuka yang mengikuti, ternyata mobil itu sengaja membuntuti kami karena yakin mobil kami tidak mampu naik. Kami menyerah, kami kembali ke bawah, dekat jalan raya, dan memutuskan naik mobil bak terbuka.

Inilah salah satu malam paling teduh dan paling syahdu, lucu bukan, aku ketakutan di mobil aman tertutup, sekarang aku menghirup udara malam, tertawa sesekali, batuk sesekali, menikmati langit gelap berbintang, dan pemandangan kota garut dari atas mobil bak terbuka yang semakin naik dan jalanan yang semakin tidak rata.

Kami sampai di pos awal pendakian sekitar pukul 1 malam, aku tidak bawa sleeping bag, tidak bawa air minum, tidak bawa cemilan dan hanya teh botol, dan hanya pakai sepatu semi flat-semi sport, aku ditertawakan, maklum-baru-selesai-ngurusin-perkoasan-dan-baru-nyampe-rumah-jam-setengah-8-malam-dan-pergi-jam-8. Kami beristirahat di pos awal, dan mulai mendaki besok paginya.

Jalur awal yang kami tempuh berupa jalanan berbatu, ukuran batu rata-rata sebesar telapak tangan, sedikit mendaki, lalu melewati letupan-letupan yang entah belerang atau gas beracun katanya, indah sekali, you are allowed to scream, ini ruang terbuka dengan langit biru kokoh dan pegunungan vulkanik yang tegak, bahagia seriusan. Diteruskan dengan jalur licin-licin tanah basah, perjuangan sekali, kami berpapasan dengan pendaki lain yang baru turun, and you are allowed to smile to stranger, jangankan senyum, kata temen aku kalau mereka tahu air minum kita habis, mereka yang entah siapa itu akan bersedia berbagi :) sampailah kita di pondok Seladah, tempat orang-orang mendirikan tenda, banyaaaak bangeeet berhubung hari minggu, mungkin kami sampai disana di jam sarapan jadi saat kami melewati tenda-tenda itu orang tidak sungkan sekali buat nawarin makan, and once more, you are allowed to respond with smile.

Perjalanan kami lanjutkan, aku dan temenku ngotot harus sampai ke taman Edelweis, jalurnya vertikalnya tidak main-main, seingatku ini pertama kalinya aku menaiki batu-batu yang ukurannya lebih besar dari ukuran tubuhku sendiri. Tidak jauh dari itu, kami sampai di taman edelweiss yang pertama, belum apa-apa dibandingkan taman edelweis yang kedua, kembangnya lagi mekar, banyak seperti karpet, breathless. Belum kenyang di taman edelweiss, temanku yang lain ingin sampai puncak.

Ini jalur yang paling buruk buatku, temanku bilang ini hutan Jurassic, mirip hutan di film Jurassic Park yang padat dengan ilalang setinggi 2 meteran, dan pohon-pohon yang roboh akibat letusan gunung yang mirip diinjak dinosaurus katanya. Mendekati puncak, kami bisa melihat lagi lapangan yang dilapisi karpet kembang edelweiss,fabulous. Kira-kira beberapa belas meter sebelum mencapai puncak, temanku merasakan goncangan, mungkin dia lelah haha, tapi ternyata tidak, gempa bumi ternyata. Kami bertatapan satu sama lain, panik, lari-lari turun gunung yang posisinya vertikal.

Saat itu gunung papandayan memang sedang berstatus tidak tenang katanya, beberapa hari sebelumnya jalur ke puncak sempat ditutup, ya tapi mana aku tahu :D

Setelah sampai di tanah yang agak landai, kami tertawa menertawakan diri sendiri, bodor. Saat itu pukul 3 sore, kami turun gunung melewati jalur yang berbeda, hutan mati. Dulunya ini hutan hidup, tapi setelah gunungnya meletus, tidak ada lagi tumbuhan yang hidup, hanya ada batang pohon kecoklatan, semuanya coklat, ini bagus sekali, seperti sedang jadi Alice di Alice in Wonderland, Susan di Chronicle of Narnia, atau siapapun di lord of the ring, ini negeri dongeng yang lain mungkin. Selesai hutan mati, sepatuku sudah tidak mampu menyokong tubuh dan aku hipoglikemi dooongggg!!!! Akhirya aku menghabiskan beberapa batang gula merah, tambahan tenaga sebelum sampai pos awal pendakian tadi.

Semua perjalanan pendakian itu kami lakukan kurang lebih selama 12 jam. Jam 11 malam aku sampai rumah dan kakiku mogok tidak mau diajak jalan, padahal besoknya senin dan hari pertama stase anak. Aku mengandalkan analgetik (obat antinyeri) sampai kurang lebih 4 hari berikutnya, paling tidak walaupun pelan dan diseret, aku masih bisa berjalan di lorong-lorong rumah sakit.

Sampai beberapa hari berikutnya, bayangan pemandangan disana masih melayang-layang di kepala. Untungnya teman-temanku bersedia berbagi apel, soyjoy, jelly, air minum, dan gula merah.

(Akhir Juni 2014)

1 note
Tagged as: papandayan, hiking,
Copy and paste the following code immediately before : Comments {/block:IndexPage


Pepi Nur Afifah, 22, Bandung, Intern medical student. Giggling-Babbling-Rumbling young lady, dont be tricked.

Following:




Likes:

next »