Floral Tumblr Themes

ENCHANTEE, Tumbuh disetiap Musim


Ada pagi yang tidak boleh dilewatkan, dan ada malam yang tidak sehening biasanya, ini malam saat kita hendak mendaki di gunung Papandayan, jam 12 malam dan mobil kami ngadat tidak bisa lagi naik menuju pos awal jalur pendakian. Saat itu aku tidak berhenti berdoa, pasrah, dan ketakutan.

Ibu sempat bilang, bahwa untuk sampai ke jalur pendakian biasanya harus naik mobil bak terbuka, entah, aku tidak tahu. Jalanan menuju jalur pendakian ternyata semakin parah, mobil march yang temanku bawa tidak mampu lagi naik melewati daerah hutan gelap ini. Di belakang mobil kami ada mobil bak terbuka yang mengikuti, ternyata mobil itu sengaja membuntuti kami karena yakin mobil kami tidak mampu naik. Kami menyerah, kami kembali ke bawah, dekat jalan raya, dan memutuskan naik mobil bak terbuka.

Inilah salah satu malam paling teduh dan paling syahdu, lucu bukan, aku ketakutan di mobil aman tertutup, sekarang aku menghirup udara malam, tertawa sesekali, batuk sesekali, menikmati langit gelap berbintang, dan pemandangan kota garut dari atas mobil bak terbuka yang semakin naik dan jalanan yang semakin tidak rata.

Kami sampai di pos awal pendakian sekitar pukul 1 malam, aku tidak bawa sleeping bag, tidak bawa air minum, tidak bawa cemilan dan hanya teh botol, dan hanya pakai sepatu semi flat-semi sport, aku ditertawakan, maklum-baru-selesai-ngurusin-perkoasan-dan-baru-nyampe-rumah-jam-setengah-8-malam-dan-pergi-jam-8. Kami beristirahat di pos awal, dan mulai mendaki besok paginya.

Jalur awal yang kami tempuh berupa jalanan berbatu, ukuran batu rata-rata sebesar telapak tangan, sedikit mendaki, lalu melewati letupan-letupan yang entah belerang atau gas beracun katanya, indah sekali, you are allowed to scream, ini ruang terbuka dengan langit biru kokoh dan pegunungan vulkanik yang tegak, bahagia seriusan. Diteruskan dengan jalur licin-licin tanah basah, perjuangan sekali, kami berpapasan dengan pendaki lain yang baru turun, and you are allowed to smile to stranger, jangankan senyum, kata temen aku kalau mereka tahu air minum kita habis, mereka yang entah siapa itu akan bersedia berbagi :) sampailah kita di pondok Seladah, tempat orang-orang mendirikan tenda, banyaaaak bangeeet berhubung hari minggu, mungkin kami sampai disana di jam sarapan jadi saat kami melewati tenda-tenda itu orang tidak sungkan sekali buat nawarin makan, and once more, you are allowed to respond with smile.

Perjalanan kami lanjutkan, aku dan temenku ngotot harus sampai ke taman Edelweis, jalurnya vertikalnya tidak main-main, seingatku ini pertama kalinya aku menaiki batu-batu yang ukurannya lebih besar dari ukuran tubuhku sendiri. Tidak jauh dari itu, kami sampai di taman edelweiss yang pertama, belum apa-apa dibandingkan taman edelweis yang kedua, kembangnya lagi mekar, banyak seperti karpet, breathless. Belum kenyang di taman edelweiss, temanku yang lain ingin sampai puncak.

Ini jalur yang paling buruk buatku, temanku bilang ini hutan Jurassic, mirip hutan di film Jurassic Park yang padat dengan ilalang setinggi 2 meteran, dan pohon-pohon yang roboh akibat letusan gunung yang mirip diinjak dinosaurus katanya. Mendekati puncak, kami bisa melihat lagi lapangan yang dilapisi karpet kembang edelweiss,fabulous. Kira-kira beberapa belas meter sebelum mencapai puncak, temanku merasakan goncangan, mungkin dia lelah haha, tapi ternyata tidak, gempa bumi ternyata. Kami bertatapan satu sama lain, panik, lari-lari turun gunung yang posisinya vertikal.

Saat itu gunung papandayan memang sedang berstatus tidak tenang katanya, beberapa hari sebelumnya jalur ke puncak sempat ditutup, ya tapi mana aku tahu :D

Setelah sampai di tanah yang agak landai, kami tertawa menertawakan diri sendiri, bodor. Saat itu pukul 3 sore, kami turun gunung melewati jalur yang berbeda, hutan mati. Dulunya ini hutan hidup, tapi setelah gunungnya meletus, tidak ada lagi tumbuhan yang hidup, hanya ada batang pohon kecoklatan, semuanya coklat, ini bagus sekali, seperti sedang jadi Alice di Alice in Wonderland, Susan di Chronicle of Narnia, atau siapapun di lord of the ring, ini negeri dongeng yang lain mungkin. Selesai hutan mati, sepatuku sudah tidak mampu menyokong tubuh dan aku hipoglikemi dooongggg!!!! Akhirya aku menghabiskan beberapa batang gula merah, tambahan tenaga sebelum sampai pos awal pendakian tadi.

Semua perjalanan pendakian itu kami lakukan kurang lebih selama 12 jam. Jam 11 malam aku sampai rumah dan kakiku mogok tidak mau diajak jalan, padahal besoknya senin dan hari pertama stase anak. Aku mengandalkan analgetik (obat antinyeri) sampai kurang lebih 4 hari berikutnya, paling tidak walaupun pelan dan diseret, aku masih bisa berjalan di lorong-lorong rumah sakit.

Sampai beberapa hari berikutnya, bayangan pemandangan disana masih melayang-layang di kepala. Untungnya teman-temanku bersedia berbagi apel, soyjoy, jelly, air minum, dan gula merah.

(Akhir Juni 2014)

1 note
Tagged as: papandayan, hiking,

Setelah 8 minggu berkutat dengan anak-anak dan penyakitnya, ada pesan sponsor (dibaca : dokter anak) buat teteh-teteh, mbak-mbak, neng-neng, sistah-sistah,  yang seumur gw, dibawah gw, atau diatas gw yang statusnya not yet married (dibaca : jomblo). Biasanya kalau bahasannya soal anak dan bayi, dokter yang luar biasa expert dan menghabiskan puluhan tahun untuk mengurusi anak orang ini akan memandang kami, 4 orang perempuan muda dalam ruangan itu, yang seolah mengatakan suatu hari kalianlah yang paling bertanggung jawab dan rasakan efeknya kalau kalian tidak menjaga bayi kalian bahkan sebelum bayi nya itu dibuat, karena tanamah tumbuh baik dilahan yang baik. Beginilah kurang lebih isi pesan-pesannya,

Walau bahasa nya kurang begitu familiar, asam folat atau kita kenal dengan vitamin B, begitu penting untuk perkembangan otak bayi, ini bukan soal iklan susu biar anaknya jenius dikemudian hari, tapi soal cacat bawaan bayi saat lahir seperti anencephaly, atau spina bifida. Dear, bayi anencephaly itu hanya bertahan hidup dalam hitungan hari. Saran dari spnsor (dibaca seperti diatas) buat teteh-teteh macam kita, yaitu minum asam folat atau multivitamin yang mengandung asam folat setiap hari, sekarang, selama 3 bulan, nah setelah itu berhenti, dan minum lagi saat hendak menikah (ciyee nikah).

Soal anemia, mungkin bahasa ini lebih familiar. Kenapa familiar, karena perempuan di Indonesia ini banyak sekali yang mengalami anemia. Anemia atau rendahnya kadar hemoglobin dalam darah ini bisa terjadi karena banyak hal, salah satunya menstruasi. Berapa banyak darah yang dikeluarkan saat menstruasi ?, justru penyebab paling banyak anemia pada perempuan adalah menstruasi. Nah dengan kadar hemoglogin yang rendah atau normal rendah, saat hamil, kadar hemoglobin nya ini langsung drop, anemianya bertambah parah. Bayangkan teh manis, yang manisnya sudah pas-pasan, tiba-tiba ditambah air lagi, kan hambar. Saat hamil, volume cairan dalam tubuh ibu hamil bertambah, ini terjadi agar ibu bisa memberi nutrisi untuk bayinya, siapa carriernya ? carriernya ini si hemoglobin.  Hemoglobin ini bekerja untuk membawa oksigen dan nutrisi untuk si bayi, nah kalau kurang kan, berarti nutrisi untuk perkembangan si bayinya juga kurang, ibunya akan lemah. Ini pentingnya makan-makanan yang bergizi yang bukan Cuma mie instan, hemoglobin ini dibentuk dalam tubuh dengan bantuan besi (fe), fe sendiri banyak terdapat dalam daging merah, atau lebih baik lagi vitamin penambah darah yang sekarang dijual bebas di pasaran.

Waktu gw akan vaksin hepatitis, teman gw meledek, katanya gw ini macam ayam aja harus di vaksin. Vaksin itu bukan hanya buat anak-anak. Salah satu penyebab cacat bawaan saat lahir yaitu akibat infeksi semasa hamil atau bahkan sebelum hamil, salah satu penyebab terbanyak yaitu Rubela, dan Toksoplasma yang ada di kucing atau anjing dan ditularkan ke manusia. Itu pentingnya screening pra-nikah, untuk menilai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dikemudian hari, dan pencegahannya salah satunya dengan vaksin Rubela. itulah juga pentingnya akan lebih baik kalau saat hamil tidak ada kucing dan anjing di rumah.

 Mengingat tanggal dan periode menstruasi adalah hal yang penting. Salah satu metode paling tepat untuk menilai usia kehamilan dan perkiraan persalinan adalah menghitung dari tanggal menstruasi terakhir. Kemarin dokternya mengatakan bahwa orang ini selalu mengingat macam-macam tanggal mulai dari tanggal menikah sampai tanggal bulan madu, dan melupakan tanggal menstruasinya padahal itu penting untuk bayi mereka kelak.

Minum susu.  Walaupun bukan dokter anak yang bilang, minum susu ini memang dianjurkan, karena kandungan vitamin dan nutrisinya yang banyak. Sama seperti vaksin, susu ini juga bukan hanya untuk anak-anak. Jangan malu untuk minum susu.

Ini sekarang, pesan yang paling banyak disampaikan, menikah dan punya anaklah dari umur 20-35, kenapa begitu, karena itu adalah usia paling aman. Usia terlalu ekstrim artinya terlalu muda atau terlalu tua terlalu banyak memiliki risiko yang berbahaya bagi ibu juga bagi calon bayinya kelak.

Sama seperti tulisan-tulisan populer yang mengatakan bahwa anak-anak yang baik harus dididik oleh ibu yang baik, salah satu cara agar anak-anak dididik dengan cara yang baik adalah dengan memilih ibu yang baik. Begitu pula yang ingin disampaikan sponsor (dibaca seperti diatas), agar anak yang baik lahir dari tempat yang baik, katanya jangan sampai calon presiden, insinyur, dokter, dan orang-orang kreatif masa depan tidak bisa berperan maksimal hanya karena kita sekarang. Bahwa menikah tidak sekedar menikah, positif tidak hanya positif, dan lahir tidak sekedar lahir.

Untuk banyak perempuan muda dimanapun ia.




Grey’s Anatomy + specialties

(Source: mcbrilliant, via futuremediwitch)


cranquis:

diarymdstudent:

mymedlife:

Why do you think those two are hugging and crying? my resident asks as we watch our attending embrace a man about his age. It’s because one year ago that patient was given four months to live. I saw him then, he looked like he was on his deathbed.
No one knew what he had
But our attending figured it out. He diagnosed him.
It was a rare form of leukemia.
You know it’s rare when Google’s feeble attempts to help out only turns up a handful of journal articles.
Do you know how he knew?
He read an article about it a few weeks before. 
Everyone laughed at him, but he remembered that article and demanded we run the tests. 
Turns out, he was right.
Never forget, reading saves lives. 
To the first years, just staring out your med school journey, not sure why they signed up for this. To those who just finished boards, and never want to pick up a text book again. To the premeds, who just want to finish up their pre reqs and get to medical school already. To the spouses, who wonder if they will ever see their significant others without a textbook again.
This is why we do it.
This is why we stay up past our bedtimes.
And wake up before the sun.
This is why we memorize overly complicated pathways until we can do them in our sleep.
Why we can name every class of antibiotic, even those no one uses anymore.
This is why we push ourselves to be better every day than we were the last.
Why we put our lives on hold.
Not for more letters to put behind our name.
Not for some number on a score sheet.
Not because mom told us to.
We do it because one day, a day that will occur far faster than we are ready for, we’ll have our own patients.
One day someone will come in and ask you “so doc, what is it.” And you’ll say to yourself, I know this.
So when the tediousness of studying gets you down, don’t forget:
Reading saves lives.

This feels like it needs epic music to go with it. 

Compose the music and I’ll sing this from the rooftops.

(In all seriousness — this is an important reminder for all physicians and healthcare providers, before/during/after school/exams/residency/beyond!)


Kalo lagi males banget sampai titik terendah hidup, tiba-tiba inget kalo suatu hari orang akan bertanya dan orang berhak dapat jawaban pintar dari dokter yang pintar.Not for more letter behind your name, not for some number on score sheet, not for more money, but for saving lifes.Read !! For saving more lives

cranquis:

diarymdstudent:

mymedlife:

Why do you think those two are hugging and crying? my resident asks as we watch our attending embrace a man about his age. It’s because one year ago that patient was given four months to live. I saw him then, he looked like he was on his deathbed.

No one knew what he had

But our attending figured it out. He diagnosed him.

It was a rare form of leukemia.

You know it’s rare when Google’s feeble attempts to help out only turns up a handful of journal articles.

Do you know how he knew?

He read an article about it a few weeks before.

Everyone laughed at him, but he remembered that article and demanded we run the tests.

Turns out, he was right.

Never forget, reading saves lives.

To the first years, just staring out your med school journey, not sure why they signed up for this. To those who just finished boards, and never want to pick up a text book again. To the premeds, who just want to finish up their pre reqs and get to medical school already. To the spouses, who wonder if they will ever see their significant others without a textbook again.

This is why we do it.

This is why we stay up past our bedtimes.

And wake up before the sun.

This is why we memorize overly complicated pathways until we can do them in our sleep.

Why we can name every class of antibiotic, even those no one uses anymore.

This is why we push ourselves to be better every day than we were the last.

Why we put our lives on hold.

Not for more letters to put behind our name.

Not for some number on a score sheet.

Not because mom told us to.

We do it because one day, a day that will occur far faster than we are ready for, we’ll have our own patients.

One day someone will come in and ask you “so doc, what is it.” And you’ll say to yourself, I know this.

So when the tediousness of studying gets you down, don’t forget:

Reading saves lives.

This feels like it needs epic music to go with it. 

Compose the music and I’ll sing this from the rooftops.

(In all seriousness — this is an important reminder for all physicians and healthcare providers, before/during/after school/exams/residency/beyond!)

Kalo lagi males banget sampai titik terendah hidup, tiba-tiba inget kalo suatu hari orang akan bertanya dan orang berhak dapat jawaban pintar dari dokter yang pintar.

Not for more letter behind your name, not for some number on score sheet, not for more money, but for saving lifes.

Read !! For saving more lives

(via futuremediwitch)


Cute…

Cute…

(Source: behance.net, via futuremediwitch)

x-cessive-bastard:

I was speaking to a friend in Gaza and he told me that his little cousin is writing her name all over her body with her markers, just in case she gets blown up and no one can identify her. She is 11 years old. 11. The psychological pain and trauma the Palestinian children go through is absolutely repulsive.

(via hijabiihayati)



Dia mulai bicara, awalnya aku hanya menganggap ini obrolan ritual biasa, seperti ritual di sabtu malam lain yang sering kami lakukan di meja makan, makan bersama dengan diskusi tanpa arah dan kesimpulan.

Sayangnya ini bukan ritual biasa, dia sedang mengajukan sebuah proposal. Perempuan didepanku ikut mendengarkan, dari sikapnya, aku pun menangkap bahwa perasaannya mulai resah dengan semua pernyataan yang dia ungkapkan.

Kami sadar ini adalah obrolan orang dewasa, tapi melihat air mukanya, aku teringat dengan anak kecil yang meminta kelinci. Sayangnya ini bukan persoalan meminta sepeda untuk bermain di lapangan, dia sedang mengajukan proposal mimpinya dari yang sesederhana mimpiku hingga istilah yang hanya bertengger pada kepalanya saja, padaku, perempuan di depanku, dan pada Tuhan, disaksikan malaikat-malaikat.

Haruskah aku amin-kan ?

Dulu aku nyanyikan ia ‘budak leutik bisa ngapung’, dalam harfiah indonesia Anak Kecil yang Bisa Terbang, apa daya setiap kalimat menjadi doa dan sekarang ia bilang ingin terbang.

Harusnya mimpi seumur dia adalah suatu hari ia akan jadi pengantin yang cantik. Dari deretan panjang uraian mimpinya, tidak satupun dia bilang mau pakai gaun pengantin tipe apa suatu hari nanti. Dia berhenti sejenak untuk menarik nafas, syukur, paling tidak mimpi-mimpinya tidak menyesakan dadanya. Aku ambil kesempatan itu segera,
‘Jangan pergi terlampau jauh nak, ingat, menikahlah suatu hari’.

Dia terdiam, menarik nafas lebih banyak. Mencerna kalimat pendek nan sarat makna itu. Berusaha menemukan kalimat yang tepat, untuk menyudahi pembicaraan ini. Dia memang tidak punya kriteria, tidak menunggu yang luar biasa, hanya menunggu saat semesta mengatakan iya, dan ia pun akan mengatakan hal yang sama.

Aku namai ia dulu sebagai ‘cahaya yang dilindungi’. Apapun mimpinya, jadikanlah bumi tempat kakinya berpijak dan langitnya bernaung sebagai pelindungnya.

Obrolan berhenti begitu saja, karena, karena ada panggilan dari yang kuasa menuju rumah-Nya.



Copy and paste the following code immediately before : Comments {/block:IndexPage


Pepi Nur Afifah, 22, Bandung, Intern medical student. Giggling-Babbling-Rumbling young lady, dont be tricked.

Following:




Likes:

See more stuff I like
next »